The gigiemas77 Diaries
The gigiemas77 Diaries
Blog Article
Sedangkan di Indonesia, masyarakat suku bugis dikenal kerap memakai gigi emas. Era tahun 60-an silam gigi emas bagi suku bugis untuk menunjukkan kemampuan finansial mereka.
Hal ini untuk menunjukkan rasa hormat kepada keluarga mempelai pria. Namun, ada arti lain dari ini: gigi emas bentuk kesetaraan wanita sekaligus bentuk jaminan bahwa dia tidak akan pernah miskin jika suaminya nanti meninggalkannya.
Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, yang disebut kejutan galvanik. Lalu gigi emas juga lebih sensitif terhadap makanan panas atau dingin.
Jika sang pemilik gigi emas meninggal, keluarga bisa menjualnya. Bahkan bisa juga dileburkan kembali dan dibuat gigi emas lagi untuk anggota keluarga lainnya.
Tapi apakah menggunakan gigi emas yang dilakukan sebagian pesohor hanya untuk pamer kekayaan semata? Dan bagaimana jika dijual di kemudian hari, apakah bisa jadi investasi. Lalu, bagaimana dampaknya bila ditinjau dari aspek medis?
Gigi emas sendiri merupakan salah satu dari gigi palsu permanen. Dilansir di About Islam, rumah fatwa Al-Azhar menyebut tidak ada yang salah dalam hal ini, sejauh menyangkut Islam. Bagi pria dan wanita diperbolehkan memiliki gigi emas, keperakan dan platina selama diperlukan.
System ini sudah mengantongi izin dari Bappebti dan sistem elektroniknya terdaftar di Kominfo. Transaksi digital terjamin aman karena telah terdaftar di KOMINFO dan berpartner dengan ICH untuk menjamin keamanan transaksi pengguna.
Ketika period Uni Soviet, emas lebih berharga daripada uang. Dengan emas kamu akan lebih dihormati lho. Mahkota gigi emas bisa dijual dan diwariskan.
Emas juga sangat kuat terhadap tekanan kunyah dan tahan terhadap korosi, tidak seperti logam paduan lain yang mudah korosi di lingkungan mulut yang korosif.
Adapun untuk penggunaan logam lain, seperti platinum, tidak ada bukti jelas yang melarang penggunaannya. Dengan demikian, seorang Muslim diperbolehkan memiliki gigi emas selama pedoman di atas yang dikutip oleh dua pendapat ilmiah diterapkan.
Sebagian ulama’ memang menetapkan bahwa pembolehan semacam hidung palsu adalah untuk kebutuhan semacam melindungi tubuh atau melindungi kemanfaatan tubuh. Bukan sekedar hiasan semata. Oleh karena itu, memakai tangan palsu dan jari palsu hukumnya masih diperselisihkan.
Ibn Qudamah meriwayatkan para pengikut Imam Ahmad Ibn Hanbal melihat tidak ada salahnya memiliki gigi emas dan perak, tetapi tanpa menunjukkan kelebihan atau pemborosan. Dengan demikian, jelas tidak ada salahnya menambal dan menutupi gigi dengan emas atau perak.
Menurut American Dental Association (ADA), belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa memakai gigi emas aman dipakai dalam jangka panjang. Bila aksesori ini dibuat dengan baik seperti layaknya gigi tiruan, dan memiliki kecekatan yang baik terhadap gigi serta pemakaiannya hanya dalam waktu yang singkat, pemakainya tidak terlalu beresiko gigiemas77 untuk mengalami masalah gigi dan mulut.
Sayangnya fenomena gigi emas telah menjadi industri yang menggoda banyak pelaku bisnis yang ingin meraup keuntungan, dan belum tentu dibuat dengan mempertimbangkan aspek medis. Celah yang terjadi antara gusi dengan gigi emas yang tidak pas menjadi tempat terjebaknya makanan yang susah dibersihkan.
Emas itu ada yang benar-benar logam mulia, tetapi ada pula yang terbuat dari logam tertentu berwarna kuning tua. Kamal mengatakan, sebagian pelanggan juga meminta agar lempeng logam tersebut diberi ”motif” tertentu.
Namun demikian, menurut pendapat pertama penggunaan gigi emas dan keperakan harus dikurangi dengan norma keharusan. Sementara, pendapat kedua (pengikut Imam Ahmad Ibn Hanbal) menyatakan hal ini diperbolehkan kapan saja selama tidak ada niat untuk menunjukkan kelebihan atau pemborosan.